IKN dan Tantangan Swasembada Pangan, Nanda Soroti PAD Yang Masih Bergantung Pada SDA Pertambangan

waktu baca 2 menit
Rabu, 20 Nov 2024 21:38 0 313 Harian Republik

Samarinda- Hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN) membawa angin segar sekaligus tantangan baru bagi Kalimantan Timur (Kaltim).

Pertumbuhan pesat jumlah penduduk di wilayah ini memicu lonjakan kebutuhan pangan, sementara upaya untuk mencapai swasembada pangan masih dihadapi sejumlah hambatan serius. Salah satu ironi terbesar yang muncul adalah penurunan produksi padi, meskipun permintaan terus meningkat.

Fenomena ini terutama disebabkan oleh alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan perumahan dan tambang. Akibatnya, Kaltim hingga kini masih bergantung pada suplai pangan dari luar daerah, seperti Jawa dan Sulawesi.

Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis, mengakui bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kaltim masih sangat bergantung pada sektor Sumber Daya Alam (SDA), terutama pertambangan.

Namun, ia optimistis Kaltim memiliki potensi besar untuk mencapai swasembada pangan. Dengan luas wilayah yang signifikan, menurutnya, kunci utama terletak pada perencanaan yang matang dan berbasis data.

“Kita belum memiliki database komprehensif terkait potensi pertanian di setiap kabupaten/kota. Berapa luas lahan produktifnya? Bagaimana kualitas tanahnya? Apa komoditas yang paling cocok? Semua ini harus terdata dengan jelas. Kalau kita punya peta potensi yang detail, saya yakin Kaltim bisa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri tanpa bergantung pada daerah lain,” ujar Ananda.

Ia menyoroti bahwa daerah seperti Kutai Kartanegara (Kukar), Paser, dan Penajam Paser Utara (PPU) sudah dikenal sebagai lumbung pangan di Kaltim. Namun, potensi serupa juga diyakini ada di wilayah lain jika dikelola dengan baik. Ananda mengusulkan agar pemerintah menyusun cetak biru ketahanan pangan, dimulai dengan pemetaan menyeluruh dari hulu ke hilir.

“Database itu langkah awal yang krusial. Selanjutnya, pemerintah harus memprioritaskan ini, dari tingkat pusat hingga daerah. Fokus pada pengelolaan sumber daya alam memang penting, tetapi ketahanan pangan juga harus menjadi perhatian utama, terutama untuk kebutuhan kita sendiri,” tegasnya.

Sebagai langkah strategis, Ananda juga mendorong pengembangan food estate di Kaltim, dengan catatan bahwa kebijakan ini harus berpihak pada kesejahteraan petani lokal. Menurutnya, jika dikelola secara serius, food estate tidak hanya akan memperkuat upaya swasembada pangan, tetapi juga meningkatkan taraf hidup petani.

“Semua pihak harus bersinergi untuk mewujudkan ini. Jika Kaltim ingin menjadi penopang IKN sekaligus mandiri dalam kebutuhan pangan, kolaborasi pemerintah, petani, dan masyarakat sangatlah penting,” pungkasnya.

Dengan tantangan yang ada, masa depan swasembada pangan Kaltim bergantung pada langkah-langkah strategis yang diambil mulai hari ini. (Adv)

LAINNYA