Foto: Kepala Desa Ponoragan, SarminKUKAR – Desa Ponoragan di Kecamatan Loa Kulu tengah mengembangkan langkah strategis untuk membangun kemandirian pangan melalui pendirian Koperasi Merah Putih. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi lokal dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat secara mandiri.
Koperasi Merah Putih dibentuk sebagai wadah usaha bersama, yang mencakup berbagai sektor mulai dari penyediaan sembako hingga layanan kesehatan tingkat dasar. Kehadiran koperasi ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pasokan dari luar wilayah.
Menurut Kepala Desa Ponoragan, Sarmin, koperasi merupakan jalan tengah yang realistis untuk mendorong kemandirian desa. Ia menilai, kekuatan ekonomi desa harus bertumpu pada sumber daya dan inisiatif yang tumbuh dari dalam. “Kalau kita terus bergantung dari luar, artinya belum mandiri. Sebesar apa pun negara ini, tanpa pangan yang kita hasilkan sendiri, belum bisa disebut kuat,” katanya, Minggu (29/6/2025).
Proses pembentukan koperasi telah melewati tahapan legal formal, termasuk pengurusan akta notaris hingga pengesahan di tingkat kabupaten. Bahkan, bangunan untuk operasional koperasi sudah disiapkan agar kegiatan bisa segera dimulai.
Koperasi ini juga diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung, terutama dalam menghadapi fluktuasi harga dan distribusi barang pokok yang kerap terjadi di daerah. Ponoragan ingin memastikan warganya tak terjebak dalam ketergantungan pasar luar. Berbeda dengan BUMDes yang umumnya bersandar pada dana desa, koperasi dinilai lebih fleksibel karena berbasis pada modal anggota. Dengan pengelolaan yang transparan dan tanggung jawab kolektif, koperasi bisa menjadi instrumen jangka panjang bagi pembangunan ekonomi warga.
Kepala desa menekankan pentingnya kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan. Menurutnya, koperasi harus dijalankan dengan prinsip akuntabilitas dan mekanisme peminjaman yang jelas agar tidak menimbulkan beban di kemudian hari. Melalui koperasi ini, pemerintah desa ingin membangun kesadaran kolektif bahwa kekuatan ekonomi tak harus bergantung pada pihak luar. Ketahanan pangan pun bisa dimulai dari desa jika dikelola dengan semangat kebersamaan.
Ponoragan memandang koperasi sebagai cermin perjuangan warga untuk menjaga martabat desa, bukan sekadar alat bisnis. Konsep gotong royong kembali dihidupkan agar pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan oleh semua kalangan. “Koperasi ini bukan hanya alat usaha, tapi bagian dari perjuangan kita menjaga martabat desa lewat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi,” tutup Sarmin. (Adv)