Lahan Menyusut Akibat Tambang, Petani Buana Jaya Berjuang Pertahankan Pertanian

waktu baca 2 menit
Selasa, 11 Mar 2025 22:19 0 211 Harian Republik

Kukar – Lahan sawah di Desa Buana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, perlahan menyusut akibat alih fungsi lahan menjadi area pertambangan. Desa yang dulunya menjadi lumbung padi terbesar kedua di kecamatan tersebut setelah Desa Bukit Pariaman kini menghadapi tantangan besar.

Dari luas lebih dari 700 hektare, sebagian besar lahan kini berubah menjadi jalur truk dan kawasan industri. Meski demikian, para petani di Buana Jaya tidak tinggal diam. Mereka terus mencari cara agar dapat bertahan di tengah semakin terbatasnya lahan pertanian.

Plt. Sekretaris Desa Buana Jaya, Heriansyah, mengungkapkan bahwa aktivitas pertambangan berdampak signifikan pada sektor pertanian. Banyak lahan produktif yang dialihfungsikan, memaksa petani beradaptasi agar tetap bisa bercocok tanam.

“Lahan pertanian semakin berkurang karena banyak yang dijadikan kawasan tambang. Petani harus mencari cara agar bisa tetap bertani di lahan yang tersisa,” ujarnya, Selasa (11/03/2025).

Untuk mengatasi keterbatasan lahan, petani mulai menggarap rawa-rawa yang sebelumnya tidak dimanfaatkan. Upaya ini dilakukan agar produksi padi tetap berjalan meski lahan utama berkurang drastis.

“Rawa-rawa yang dulu dibiarkan, kini mulai kami kelola sebagai tambahan lahan tanam,” tambah Heriansyah.

Selain memanfaatkan lahan yang tersisa, petani juga mulai menggunakan teknologi pertanian modern untuk meningkatkan efisiensi. Jika sebelumnya panen di satu hektare sawah memakan waktu hingga tiga hari, kini dengan bantuan mesin, proses tersebut dapat diselesaikan dalam sehari.

“Dengan teknologi mesin panen, pekerjaan jadi lebih cepat. Bahkan, panen bisa dilakukan di malam hari,” jelasnya.

Meski telah berinovasi, petani masih menghadapi kendala dalam pengeringan gabah. Minimnya fasilitas pengering memaksa mereka menjemur hasil panen secara manual di lantai semen atau halaman rumah.

“Kami sudah mengusulkan bantuan mesin pengering, tapi hingga kini belum terealisasi,” tutupnya. (Adv)

LAINNYA