Sri Puji Astuti : Desak KPI Melek Digital dan Stop KBGO pada Anak!

waktu baca 2 menit
Jumat, 23 Mei 2025 22:10 0 277 Harian Republik

Samarinda – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menyuarakan keprihatinannya terkait kurangnya efektivitas pengawasan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam mencegah Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) pada anak. Sri Puji menyoroti lemahnya pengawasan terhadap iklan dan konten digital yang berpotensi membahayakan anak-anak.

Sri Puji mempertanyakan kinerja lembaga pengawas penyiaran ini yang dinilainya belum optimal dalam menjalankan fungsinya.

“Kita sudah punya KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), apa itu sudah bergerak? Iklan kita apakah sudah aman? Apakah gadget aman, tidak kan?” tanya Sri Puji secara retoris, menyiratkan keraguan akan peran KPI.

Ia menekankan bahwa jangkauan pengawasan KPI tidak boleh hanya terbatas di wilayah perkotaan, melainkan harus mencakup seluruh pelosok daerah.

“Itu yang harus jalan dari KPI. Harus sampai ke pelosok, jangan hanya di pusat,” tegasnya Dalam sebuah wawancara pada beberapa waktu yang silam.

Menurutnya, perlindungan anak dari konten berbahaya harus merata di semua wilayah di Indonesia.

Sri Puji juga menyoroti tantangan pengawasan yang semakin kompleks di era digital ini. Konten negatif dapat dengan mudah tersebar melalui berbagai platform online, sehingga pengawasan harus adaptif dan responsif terhadap perkembangan teknologi.

Meskipun demikian, Sri Puji juga menggarisbawahi peran krusial keluarga dalam mengantisipasi KBGO. Ia berpendapat bahwa kehadiran teknologi seperti televisi dan gadget di rumah bukanlah masalah utama, melainkan bagaimana cara mengelola dan mendisiplinkannya.

“Sebenarnya gak apa apa televisi dan gadget ada di rumah gadget, tapi bagaimana cara kita mengaturnya, mendisiplinkan anak,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sri Puji menegaskan bahwa disiplin dalam penggunaan teknologi bukan hanya menjadi tanggung jawab anak, tetapi juga orang dewasa.

“Disiplin juga bukan hanya dari anak tapi kewajiban disiplin bagi orang tua dan orang dewasa,” pungkasnya.

Ia mengajak semua pihak, termasuk pemerintah, keluarga, dan masyarakat, untuk bersinergi dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak dari kekerasan berbasis gender online. Dengan langkah bersama, diharapkan anak-anak dapat tumbuh dan berkembang dengan lebih terlindungi dari ancaman digital.

(ADV/DPRDSmd/ANH)

LAINNYA