Ketua PMKRI Samarinda, Randi Tukan. Opini – Diatas tanah Kalimantan yang semerbak oleh emas hitamnya, sebuah panggung didirikan dengan dua dekorasi yang saling mengutuk. Kita dapat menyaksikan sebuah kesenjangan realitas yang merobek logika kemanusiaan. Pada satu sudut, seorang siswa SMK di Samarinda harus meregang nyawa karena sepatu sekolah yang kekecilan, sedang di sudut yang lain para pejabatnya mengibarkan parade hedonisme yang ugal-ugalan. Wow. It’s amazing, Bro!
Sebagai rakyat yang budiman, mari kita berikan ‘standing applause’ kepada Mandala Rizky Syahputra (16), seorang siswa yang sangat berbakti pada prinsip penghematan nasional. Ia begitu memahami bahwa anggaran negara sedang fokus membiayai hal-hal krusial, sehingga ia memutuskan untuk tidak merepotkan orang tuanya dengan meminta Sepatu baru.
Mandala adalah potret pahlawan sejati bagi teori “Efisiensi Anggaran”. Baginya, kaki yang melepuh, infeksi yang menjalar, hingga nyawa yang melayang hanyalah pengorbanan kecil demi memastikan tidak ada pos anggaran pejabat yang terganggu.
Bukankah lebih baik seorang siswa kehilangan nyawa karena sepatu sempit, daripada seorang pejabat kehilangan muka karena hanya memakai mobil keluaran tahun lalu? Ironis, bukan?
Bayangkan, ada seorang anak yang menyimpan seluruh masa depannya di dalam sepasang sepatu karet yang telah lama kehilangan elastisitasnya. Baginya Pendidikan bukan hanya sekedar deretan angka di rapor, melainkan sebuah ruang sempit yang menjepit jempol kakinya hingga membiru. Ia tidak pernah mengeluh, sebab ia tahu, suara kemiskinan seringkali tak memiliki frekuensi yang mampu ditangkap oleh telinga-telinga di Gedung tinggi.
Setiap langkah menuju sekolah hingga pemenuhan program magang sebagai seorang pramuniaga adalah sebuah dinamika yang tidak terbantahkan. Sepatu itu yang ukurannya telah kalah oleh pertumbuhan usia menjadi penjara bagi daging dan tulang.
Hingga akhirnya, luka itu meradang, kuman menari di atas keterbatasan, dan maut datang menjemput melalui infeksi yang bermula dari hal yang dianggap remeh oleh dunia: sepasang alas kaki yang tak mampu diganti. Ia pulang ke keabadian tanpa alas kaki, meninggalkan sepasang Sepatu using yang kini tampak seperti monumen kegagalan sebuah bangsa.
Sekali lagi mari kita berdiri dan memberi tepuk tangan dengan penuh khidmat sembari menoleh pada sudut lain yang tengah menyuguhkan pertunjukan krisis empati. Masih di atas tanah yang sama dengan nisan yang masih basah itu, pejabat merayakan parade hedonisme atas dasar menjaga Marwah daerah. Aksi mulia ini memang layak mendapatkan penghargaan dalam ajang pelestarian citra dan gengsi publik. Oh my ghost! Nikmat kuasa mana lagi yang kau dustakan.
Gubernur Kaltim (Rudy Mas’ud) membeli mobil dinas seharga Rp.8,5 M dengan dalih tidak ingin menjemput tamu daerah dengan mobil yang sealakadarnya. Beliau juga mengeluarkan anggaran untuk renovasi rumah jabatan Gubernur hingga Rp 25 Miliar serta kursi pijat seharga Rp 125 Juta.
Ada pula Wali kota Samarinda (Andi Harun) sewa mobil dinas dengan biaya per bulannya Rp 160 Juta sudah selama 3 tahun. Fantastis! Bagaimana tidak? Apabila deretan nominal di atas dikalkulasikan untuk membeli Sepatu sekolah, maka setiap siswa/i SD, SMP, hingga SMA dan SMK di seluruh Indonesia masing-masing akan memperoleh 5 pasang.
Hehe. Ini hanya sebatas perhitungan sekira-kiranya. Pointnya adalah realitas ini menjadi indikator adanya ketimpangan dalam pengelolaan anggaran public. Saat seorang anak bertaruh nyawa demi sepasang Sepatu, ada anggaran yang justru mengalir untuk fasilitas mewah yang tidak menyentuh rakyat kecil. Kesenjangan ini bukan sekedar angka statistik, melainkan cerminan krisis moral.
Tragedi ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi para pemangku kebijakan. Tidak ada gunanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi atau laporan sarapan anggaran yang bagus, jika di lapangan masih ada anak bangsa yang kehilangan nyawa hanya karena urusan alas kaki, sementara pejabatnya sibuk memoles citra dengan kemewahan.
Bagaimana bisa sebuah negeri membiarkan seorang anak tewas karena sepatunya terlalu kecil, sementara para pemimpinnya hidup dalam dunia yang terlalu besar untuk sekedar memiliki hati?
Pada akhirnya rakyat yang Budiman, cobalah kita bermadah tanya: “Apakah untuk selamat di negeri ini, tidak boleh kita lahir sebagai anak yang kakinya tumbuh lebih cepat daripada pendapatan orangtuanya; tetapi harus lahir sebagai pejabat yang urat malunya tumbuh lebih lambat daripada laju korupsinya?”
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026.
Penulis: Randi Tukan, Ketua PMKRI Samarinda
Tidak ada komentar