Bendahara GPM Kota Samarinda, Ricard Parera. Harianrepublik.com,Opini- Pada 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938, pemerintah Hindia Belanda mengasingkan Soekarno ke Ende karena aktivitas politiknya dianggap sebagai ancaman serius bagi kolonial Belanda.
Pengasingan tersebut merupakan upaya yang dilakukan Hindia Belanda untuk memutus pengaruh gerakan Soekarno yang pada waktu itu sangat masif di pulau Jawa yang mulai meluas ke pulau Sumatera. Namun, keputusan kolonial Belanda itu justru menjadi fase yang sangat penting bagi dalam perjalanan intelektual dan ideologi Soekarno.
Di Kota kecil Ende, yang terletak ditengah pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ende bukan hanya sekedar sebagai tempat pembuangan Bung Karno, namun sebagai tempat Bung Karno untuk melakukan kontemplasi menggali lima butir mutiara yang dikenal dengan nama Pancasila.
Di Ende Soekarno ditemani istrinya, Inggit Garnasih, ibu mertuanya, Amsih dan kedua anak angkatnya yaitu, Ratna Djoeami, dan Kartika. Dia dan keluarganya tinggal di Kampung Ambugaga, rumah sederhana itu milik Haji Abdullah Ambuwaru, yang saat ini menjadi Situs Cagar Budaya.
Selama berada di Ende Bung Karno menghabiskan banyak waktu untuk membaca dan menulis di perpustakaan Biara Santo Yosef yang dikelola oleh misionaris Societas Verbi Divini atau yang dikenal nama Serikat Sabda Allah di kompleks Gereja Katolik Kristus Raja. Selain membaca dan menulis ia juga berdiskusi dengan misionaris Belanda, yakni Pastor Gerardus Huijtink SVD dan Pater Johannes Bouma SVD.
Soekarno juga membentuk kelompok seni teater yang diberi nama Sandiwara Kelimutu yang beranggotakan 47 orang. Kelompok tersebut dijadikan sebagai media untuk membangkitkan kesadaran semangat perjuangan nasionalisme. Ia menulis sekitar 13 naskah, salah satu naskah yang ditulisnya adalah “Rahasia Kelimutu”.
Salah satu tempat yang paling penting Soekarno ketika di Ende adalah pohon sukun yang tidak jauh dari tepi pantai Ende. Hampir setiap malam di bawah pohon sukun itu Soekarno duduk untuk merenungkan nasib bangsa. Tempat tersebut sekarang dikenal “Taman Renungan Bung Karno”. Sejarah mencatat dibawah pohon sukun itu dia menggali nilai-nilai dasar negara, yakni Pancasila.
Perenungannya di Ende lahir dari kegelisahan terhadap kondisi bangsa Indonesia yang sangat kaya akan keragaman. Soekarno sangat memahami bahwa bangsa Indonesia tidak mungkin dibangun atas dasar satu golongan, agama atau suku tertentu.
Maka dari itu, Bung Karno merumuskan dasar negara yang menjadi kesepakatan bersama. Hasil perenungan itu Ia sampaikan dalam pidatonya di sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang menjadi tonggak lahirnya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.
Sehingga dari itu Ende tidak bisa terlepas dari catatan sejarah bangsa Indonesia, karena kota tersebut menjadi saksi lahirnya Pancasila, yang saat ini Ende dijuluki sebagai “Kota Pancasila”.
Hubungan Soekarno dan Ende memperlihatkan gagasan tentang persatuan yang lahir dari pengalaman sosial yang nyata. Pancasila bukan hanya hasil dari pemikiran teoritis, melainkan hasil refleksi panjang dari kehidupan masyarakat Indonesia yang sangat plural. Di Ende Soekarno belajar langsung tentang, toleransi, gotong royong, dan kemanusiaan.
Jejak perjalanan Soekarno di Ende masih bisa kita temukan sampai hari ini melalui Rumah Pengasingan Bung Karno dan Taman Renungan Bung Karno. Rumah pengasingan itu sekarang menjadi museum yang menyimpan benda-benda peninggalan Soekarno, seperti, tempat tidur, piring, sendok, dan lain lain.
Di tengah tantangan Indonesia saat ini, mulai dari polarisasi politik hingga menguatnya konflik identitas. Jejak perjalanan Soekarno di Ende seharusnya menjadi refleksi penting bagi kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ende mengajarkan bahwa Indonesia dibangun diatas keberagaman dan Pancasila menjadi titik temu dari semua perbedaan.
Jika hari ini bangsa Indonesia masih terjebak dalam politik kebencian, intoleransi, dan kepentingan kelompok, sesungguhnya bangs ini sedang bergerak menjauh dari semangat Pancasila yang lahir di Ende.
Pancasila bukan hanya dihafalkan dalam ruang kelas atau dibacakan pada saat upacara, melainkan Pancasila sebagai Philosophische grondslag atau dasar filosofis bangsa yang sehari-hari harus dimanifestasikan dalam kehidupan sosial, politik dan kemanusiaan.
Penulis : Bendahara Gerakan Pemuda Marhaenis Kota Samarinda, Richard Parera
Tidak ada komentar