Belian Gaguq Taont Bentuk Keakraban Dengan Alam Semesta

waktu baca 5 menit
Jumat, 18 Agu 2023 11:14 0 83 Harian Republik

Opini – Masyarakat Dayak pada umumnya dikenal dengan kehidupannya yang berkaitan erat dan serasi dengan berbagai unsur yang ada di dalam alam semesta. Mereka meyakini seluruh makhluk hidup maupun yang tidak hidup saling berkaitan satu sama lain dan memiliki hubungan timbal balik dalam sebuah ekosistem.

Hal ini terkandung dalam filosofi kehidupan masyarakat Dayak Tonyoi di kampung Ngenyan Asa yang meyakini bahwa hutan sebagai ayah, tanah sebagai ibu, dan sungai sebagai darah. Maka dari itu mereka juga menganggap kalau sampai mereka merusak hutan, tanah, air, dan segala yang ada di dalam semesta ini maka sama saja mereka durhaka terhadap orang tua mereka sendiri.

Kampung Ngenyan Asa merupakan salah satu Kampung yang terdapat di Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur. Menurut Data Pemerintahan Kampung tahun 2021 per Januari kampung ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 1474 dengan pekerjaan mayoritas penduduk yaitu petani/pekebun. Mayoritas penduduk yang mendiami Kampung Ngenyan Asa adalah suku Tonyoi/Tunjung yang diyakini memiliki keterkaitan erat dengan Kerajaan Sentawar, penamaan Kampung Ngenyan Asa sendiri menurut penuturan Kepala Kampung yaitu Pinus “berdasarkan cerita turun temurun yang diyakini oleh penduduk setempat, dimana saat para pendahulu ingin mendirikan sebuah rumah panjang/lamin di Kampung Ngenyan Asa, saat itu mereka diserang oleh segerombolan Penyengat yang bersaramg didalam tanah yang dalam bahasa Tonyoi nya adalah Ngenyan”. Maka dari saat itu penamaan kampung mengambil dari peristiwa penyerangan segerombolan penyenggat tersebut. Penyengat (Ngenyan) juga diyakini sebagai hewan yang membantu para leluhur Dayak Tonyoi terdahulu sebagai bala bantuan untuk menghadapi lawan yang menyerang kampung.

Tahun ini masyarakat Dayak Tonyoi di Kampung Ngenyan Asa menyelenggarakan serangkaian besar ritual adat yang dinamakan sebagai Belian Gaguq Taont. Belian Gaguq Taont yang diselenggarkan di Kampung Ngenyan Asa ini akan dilaksanakan selama kurun waktu 1 bulan yang dimulai dari bulan Juli sampai bulan Agustus tahun 2023. Ritual adat inipun dilaksanakan saat momen-momen tertentu saja seperti saat masyarakat mengalami gagal panen, hewan ternak masyarakat yang banyak terkena wabah penyakit, cuaca yang buruk, serta ketentraman masyarakat yang terganggu.

Menurut Herman Berukat Pememang ritual adat belian (Pememang:pawang ritual belian) tujuan diselenggarakannya Belian Gaguq Taont ini adalah memohon kepada Sang Prajadiiq (Tuhan Yang Maha Esa) dan Nayuq Seniang (utusan Tuhan Yang Maha Esa) untuk hasil tanaman di ladang padi (Umaq), Kebun sayuran (Kebotn), dan Kebun buah-buahan (Lembo) supaya dapat menghasilkan panen yang melimpah dan terhindar dari segala macam gangguan hama yang ingin menyerang tanaman masyarakat, memohon untuk mendapatkan cuaca yang baik. Selain itu juga memohon kepada Sang Prajadiiq dan Nayuq Seniang agar hewan ternak yang dimiliki masyarakat terhindar dari berbagai macam jenis wabah penyakit serta memohon keselamatan bagi masyarakat kampung agar tidak terjadi malapetaka dan kemalangan (Botur Buir) yang menganggu ketentraman atau kemaslahatan masyarakat banyak.

Belian Gaguq taont akan dilaksanakan secara kolektif atau secara bersama-sama dengan melibatkan seluruh masyarakat kampung, cerminan kekayaan sosial yang paling dasar dalam masyarakat kampung adalah gotong royong dan saling-tolong menolong yang disebut sebagai solidaritas sosial. Gotong royong dan saling tolong menolong juga menunjukkan skema ketahanan pangan dan jaring pengaman sosial yang dibentuk oleh masyarakat kampung Ngenyan Asa.

(Proses Kile Nayuq)

Pelaksanaan Belian Gaguq Taont juga melibatkan berbagai perangkat inti pelaksana dalam ritual adat tersebut seperti Pememang (Pawang ritual adat), Penereek (Orang yang memainkan alat musik gendang, gamelan, dan gong), dan Pengeruyaq/Pengalookng (orang yang mengukir berbagai macam patung bagi kebutuhan ritual adat belian). Berbagai perlengkapan belian diambil dari alam seperti rotan, kayu belian, dan daun biru, hal ini menunjukkan keterikatan antara masyarakat Dayak Tonyoi terhadap alamnya. Namun, pemenuhan kebutuhan lewat alam itu tidak dilaksanakan secara eksploitatif melainkan secara arif dan bijaksana. Sebab bagi masyarakat Dayak Tonyoi merusak alamnya sama saja merusak diri mereka sendiri.

Tahapan Belian Gaguq Taont sendiri akan diawali proses yang dinamakan sebagai Kile Nayuq (Proses komunikasi yang dilakukan oleh Pememang kepada Prajadiiq dan Nayuq Seniang untuk memohon agar proses ritual adat dari tahap awal sampai akhir nanti berjalan secara lancar tanpa gangguan). Kemudian dilanjutkan dengan proses yang dinamakan sebagai Rurat (Musyawarah dan Mufakat yang melibatkan seluruh masyarakat kampung untuk membahas terkait mekanisme ritual adat yang akan dijalankan berikutnya). Hingga ke proses akhir atau puncak yang dinamakan sebagai Gaguq Taont, dalam proses Gaguq Taont akan dilaksanakan berupa pemberiaan beras berwarna merah dan kuning yang dicampurkan dengan patung yang terbuat dari tepung (Luikng) kepada manusia, tumbuhan, dan hewan ternak yang disebut sebagai (Penyampayaatn) dengan maksud beras tersebut sebagai sarana penangkal segalam macam jenis penyakit. Dalam pelaksanaan ritual puncak juga akan dilaksanakan proses pemotongan hewan kurban seperti kerbau, babi, dan ayam.

Masyarakat Dayak Tonyoi di kampung Ngenyan Asa mengajarkan bahwa cara pandang yang sebenarnya terhadap alam semesta adalah bukan manusia yang memiliki alam semesta melainkan alam semesta lah yang memiliki manusia. Mereka meyakini bahwa tindakan manusia yang serakah terhadap berbagai makhluk hidup maupun tidak hidup akan berdampak panjang terhadap ekosistem disekitar.

Maka dari itu masyarakat Dayak Tonyoi membentangkan pengetahuan yang begitu berharga bagi kita semua untuk arif dan bijaksana dalam mengelola alam semesta beserta isinya. Para leluhur masyarakat Tonyoi telah mewariskan pengetahuan ini untuk dapat dipetik sebagai pembelajaran bagi generasi mendatang agar terus senantiasa hidup berdampingan dengan berbagai makhluk hidup maupun tak hidup dan memandang lingkungan bukan hanya sekedar benda pasif yang dapat dirusak semaunya.

Nama : Andreas Ongko Wijaya Hului Institusi : Univ Mulawarman/Pembangunan Sosial/Ketua GMNI FKIP Unmul

Opini Merupakan Tanggung Jawab Penulis, Tidak Menjadi Tanggung Jawab Redaksi Harianrepublik.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA