
PPU – Dalam rangka persiapan menyambut Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru, Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskukmperindag) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) tengah mempersiapkan langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan. Salah satu langkah penting adalah menggelar rapat koordinasi (rakor) pada 3-4 Desember mendatang di Samarinda.
“Kondisi harga saat ini masih aman dan stabil. Namun, untuk memastikan kestabilan harga menjelang HBKN, kami akan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak pada rakor tersebut,” ungkap Marlina, S.P., Kepala Bidang Perdagangan Diskukmperindag PPU, Jum’at (15/11/2024).
Marlina menyampaikan Diskukmperindag telah melakukan sejumlah langkah antisipatif, termasuk monitoring harga di pasar dan distributor, serta pelaksanaan operasi pasar yang digabungkan dengan gerakan pangan murah bersama Dinas Ketahanan Pangan. Dari Januari hingga Juni, operasi pasar telah dilaksanakan di berbagai titik di empat kecamatan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), PPU saat ini masih dalam kondisi deflasi dan tidak termasuk kategori inflasi. Meski demikian, Marlina menegaskan perlunya kewaspadaan terhadap lonjakan harga yang biasanya terjadi akibat meningkatnya permintaan saat hari-hari besar.
Salah satu tantangan utama dalam menjaga kestabilan harga adalah memastikan kelancaran distribusi pangan. Marlina menjelaskan bahwa PPU mengandalkan pasokan komoditas dari berbagai daerah, seperti bawang merah yang diimpor dari Surabaya dan bahan pangan lainnya dari Banjarmasin, dan Makassar.
“Kami bersyukur bahwa pada bulan Desember nanti, jalan Pulau Balang akan dibuka. Ini akan mempercepat distribusi pangan yang selama ini memakan waktu hingga tiga jam melalui kapal feri dari Balikpapan. Dengan jalan ini, distribusi diharapkan lebih efisien,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa kenaikan harga di PPU biasanya terjadi saat Natal dan Idul Fitri. Namun, perubahannya tidak terlalu signifikan dibandingkan daerah lain.
“Misalnya, harga bawang merah yang biasanya Rp40.000 hanya naik menjadi Rp42.000. Kenaikan ini tidak terlalu memberatkan masyarakat,” katanya.
Faktor utama yang memengaruhi fluktuasi harga adalah musim panen dan kondisi cuaca. Ketika petani belum memasuki masa panen atau terjadi banjir akibat hujan terus-menerus, pasokan menjadi terbatas sehingga memicu kenaikan harga. Meski demikian, Marlina optimistis kebutuhan pangan di PPU akan tetap terpenuhi.
“Penduduk di sini tidak sebanyak di Pulau Jawa, sehingga kebutuhan pangan masih dapat terkelola dengan baik,” tutupnya.(Adv/Diskominfo PPU)