
Tenggarong – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) menekankan bahwa pelestarian olahraga tradisional tidak cukup hanya melalui kegiatan bermain. Kabid Pembudayaan Olahraga Dispora Kukar, Aji Muhammad Ari Junaidi, menjelaskan bahwa setiap komunitas perlu memiliki struktur kepengurusan agar pembinaan dapat berjalan lebih terarah.
Selama ini, sebagian komunitas bergerak secara mandiri tanpa organisasi yang tertata. Kondisi ini membuat pengembangan olahraga tradisional kurang optimal, terutama ketika membutuhkan peralatan, menyusun agenda latihan, atau mengikuti festival olahraga tradisional.
Dispora Kukar memastikan siap menyediakan fasilitas dan mendukung kegiatan, tetapi bantuan hanya diberikan melalui organisasi yang memiliki pengurus aktif.
“Ada pengurus bukan hanya formalitas, tetapi untuk memudahkan komunikasi, pendataan, dan perencanaan program,” tegas Ari.
Struktur organisasi yang jelas mempermudah koordinasi dengan pemerintah, pengajuan proposal, hingga pelaksanaan turnamen atau festival olahraga tradisional.
Dengan pengurus aktif, komunitas lebih siap mengikuti pembinaan berjenjang hingga tingkat provinsi bahkan nasional. Hal ini membuka peluang bagi anggota untuk menunjukkan prestasi di kancah lebih luas.
Pembinaan berjenjang tidak hanya menekankan kemampuan bermain, tetapi juga pengembangan manajemen komunitas, kepemimpinan, dan tata kelola kegiatan.
Tujuannya bukan sekadar melestarikan permainan, tetapi juga menjadikan olahraga tradisional sebagai kebanggaan daerah yang dikenal masyarakat luas.
Dispora mendorong komunitas untuk aktif berinovasi, misalnya menggabungkan olahraga tradisional dengan festival budaya atau lomba kreativitas agar lebih menarik minat masyarakat.
Dispora Kukar optimistis, dengan struktur komunitas yang tertata, olahraga tradisional di Kukar tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang, melahirkan prestasi, dan memperkuat identitas budaya daerah.