Pergelangan Tangan Bayi Syahdu Tidak Bisa Lagi Lurus, Diduga Akibat Malpraktek Rumah Sakit AWS

waktu baca 2 menit
Senin, 15 Jun 2026 14:55 0 12 Harian Republik

SAMARINDA – Syahdu, bayi berusia enam bulan itu belum bisa bergerak leluasa. Sesekali meringis kesakitan saat lengannya tersentuh. Pergelangan tangannya tak bisa lagi lurus, akibat dugaan malpraktek saat menjalani perawatan dirumah sakit AWS beberapa waktu lalu.

“Sampai sekarang belum bisa merangkak, saat usaha mau balik badan pasti menangis, mungkin tangganya masih sakit,” kata Raffita orang tua Syahdu, dikonfirmasi Kamis, 11 Juni 2026 waktu malam.

Peristiwa yang dialami Syahdu bermula ketika ia dirawat dirumah sakit pada Jumat (6/3/2026) lalu, Syahdu dirawat karena alami diare dan muntah. Ia kemudian diinfus pada tangan bagian kiri. Kondisinya membaik, karena masih mencret, Syahdu langsung dirawat inap.

Masalah mulai muncul Sabtu (7/3/2026), saat infus dilaporkan terlepas, pihak rumah sakit langsung melakukan tindakan, pemasangan ulang infus di tangan sebelah kanan.

Alih-alih membaik, sejak saat itu kondisi sang bayi mulai berubah. Tak hanya bengkak, kondisi kulit di area bekas infus juga tampak mengalami luka berat.

Peristiwa ini mengundang reaksi dari DPRD Kaltim saat itu, rombongan Komisi IV langsung melakukan sidak, mereka meminta agar dilakukan audit medis untuk mengetahui penyebab luka pada lengan anak bayi tersebut.

Kurang lebih tiga berlalu, orang tua Syahdu belum juga menerima laporan hasil audit medis. “Belum tau,”ungkap Raffita.

Menangapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Kaltim Ananda Emira Moeis mengatakan, rumah sakit harus bisa memberikan informasi lengkap pada orang tua korban. Nanda mencontohkan, apa saja yang harus dilakukan pasca operasi.

“Misalnya seperti kapan mereka (syahdu ) untuk dilakukan kontrol untuk lihat kondisi Ade itu,”jelasnya saat dikonfirmasi, Jumat 12 Juni.

Menurut Ananda Moeis itu adalah hak pasien, sebagai bentuk transparansi medis. Sebab kata dia, balita harus diberi kesembuhan.

“Tetapi kalau ada salah prosedur yang belum selesai atau kurang maksimal, RS harus buka rekam medis pada keluarga,”ungkapnya.

Syahdu bukanlah yang pertama, rentetan kejadian serupa terus terjadi di RSUD AWS. Terbaru cukup mengagetkan saat tertinggal sebuah kawat pada seorang pria di jantungnya setelah operasi.

Dari banyak peristiwa itu, Ananda Moeis mendorong agar rumah sakit dapat meningkatkan performa medis. Selain itu juga perlu dilakukan audit menyeluruh.

“Kalau tidak begitu iya tidak bisa. DPRD kita ini pengawas jalanya pelayanan, kalau tidak baik maka kita bisa berikan rekomendasi,”pungkasnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

    LAINNYA