Foto: Plt Camat Kembang Janggut, SuhartonoKUKAR – Upaya keluar dari ketergantungan pada sawit mulai digagas di Kecamatan Kembang Janggut, Kutai Kartanegara. Pemerintah setempat mulai memperkenalkan budidaya jagung sebagai langkah awal membentuk sistem pertanian yang lebih beragam.
Penanaman jagung dilakukan secara simbolis di Desa Kembang Janggut, melibatkan unsur TNI dan Polri sebagai bentuk kolaborasi strategis. Hal ini dilakukan sebagai bentuk dari dukungan terhadap program ketahanan pangan yang terus digaungkan pemerintah pusat.
Dalam kesempatan ini juga, Plt Camat Kembang Janggut, Suhartono, mengatakan bahwa pemilihan jagung sebagai komoditas percontohan didasarkan pada potensi lahan yang tersedia dan kebutuhan akan alternatif usaha tani yang lebih adaptif.
Sebagian besar desa di wilayahnya memang selama ini didominasi oleh perkebunan kelapa sawit. Meski memberi penghasilan rutin, ketergantungan terhadap satu komoditas dianggap berisiko dalam jangka panjang. “Lebih dari 70 persen masyarakat kita memang bergantung pada sawit. Tapi kami ingin menunjukkan bahwa ada peluang lain yang bisa dikembangkan,” ujarnya, Sabtu (28/6/2025).
Program penanaman jagung ini juga menjadi ajang edukasi agar warga terbuka terhadap pola pertanian campuran. Dengan dukungan dari lintas sektor, termasuk aparat keamanan, diharapkan daya tarik terhadap jagung bisa meningkat. Meski kegiatan awal dilakukan di desa yang secara administratif berada di luar wilayah kecamatan, Suhartono menekankan pentingnya kerja sama antarwilayah dalam membangun ketahanan pangan regional.
Program ini juga menyasar generasi muda desa agar melihat sektor pertanian sebagai bidang yang potensial dan menjanjikan secara ekonomi. Pemerintah kecamatan berencana memperluas lokasi percontohan ke desa-desa lain dengan pendekatan pendampingan intensif. Selain lahan, pelatihan dan akses pasar menjadi prioritas dalam pengembangan program ini.
Dengan ragam tantangan di lapangan, Suhartono menyadari perubahan tidak bisa instan. Namun ia yakin, keberhasilan program ini bisa menjadi titik awal perubahan pola usaha masyarakat desa. “Kami akan kawal terus agar program ini betul-betul membawa dampak positif bagi ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (Adv)