Ismail Latisi, Anggota Komisi IV DPRD Kota SamarindaSamarinda – Anggota DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi, memberikan pandangannya terkait rencana pengembalian Ujian Nasional (UN) sebagai bagian dari sistem evaluasi pendidikan di Indonesia.
Sebagai pendidik yang berpengalaman hampir dua dekade, Ismail melihat kebijakan ini dapat menjadi dorongan penting bagi siswa agar lebih giat belajar.
“Kalau secara pribadi, saya yang menjadi pendidik dari tahun 2006 sampai 2024, mendukung adanya ujian nasional. Karena masyarakat kita itu butuh pemicu, butuh dorongan supaya mau belajar,” kata Ismail pada Selasa (17/6/2025).
Ia juga mengungkapkan bahwa meniru sistem pendidikan Finlandia, yang dikenal unggul di dunia, belum tentu cocok diterapkan secara penuh di Indonesia.
“Karakter masyarakat Indonesia berbeda dengan Finlandia. Di sana tidak ada PR, jam belajar hanya setengah hari, tidak ada ujian nasional. Kalau diterapkan di sini belum tentu cocok,” jelasnya.
Ismail menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh sebelum mengadopsi sistem pendidikan dari negara lain. Menurutnya, ujian nasional berfungsi sebagai alat untuk memacu siswa agar mencapai target belajar yang jelas.
“Kalau mau lulus, ya harus belajar sungguh-sungguh. Ujian itu menjadi semacam tekanan yang positif. Seperti di Cina, masyarakatnya bisa maju karena mereka ditekan untuk belajar, dan hasilnya bisa kita lihat dalam kemajuan pendidikannya,” ujarnya.
Mengenai metode penilaian yang diterapkan beberapa tahun terakhir, seperti asesmen sumatif dan formatif tanpa ujian nasional, Ismail menilai pendekatan tersebut belum sepenuhnya efektif, terutama bagi siswa yang ingin bersaing masuk perguruan tinggi.
“Asesmen itu tidak bisa dijadikan hasil akhir prestasi siswa. Kompetisi itu tetap penting, apalagi saat mereka ingin masuk perguruan tinggi. Mereka harus punya daya saing, dan itu butuh tolok ukur yang jelas,”
pungkasnya.
(ADV/DPRDSmd/Huda)