Ketergantungan pada Sektor Tambang Jadi Tantangan Transformasi Ekonomi Kutim

waktu baca 2 menit
Selasa, 13 Okt 2026 10:36 0 3 Harian Republik

SANGATTA – Ketergantungan terhadap sektor pertambangan dan penggalian masih menjadi tantangan bagi Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam mewujudkan transformasi ekonomi yang lebih beragam dan berkelanjutan. Pemerintah Kabupaten Kutim pun mendorong penguatan sektor industri pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menyampaikan bahwa perekonomian daerah tumbuh sebesar 1,05 persen pada 2025. Namun, struktur ekonomi Kutim masih didominasi sektor pertambangan dan penggalian yang berkontribusi 70,16 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Kondisi tersebut menunjukkan perlunya diversifikasi ekonomi agar pertumbuhan daerah tidak terlalu bergantung pada satu sektor. Pengolahan sumber daya alam diharapkan dapat menjadi salah satu strategi untuk memperkuat fondasi ekonomi daerah.

“Kutai Timur tidak boleh berhenti sebagai daerah penghasil sumber daya alam,” ujar Ardiansyah dalam sambutannya pada peringatan HUT ke-27 Kabupaten Kutai Timur, Senin (12/10/2026).

Menurutnya, kekayaan alam harus mampu menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas, mulai dari pembukaan lapangan kerja, peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal, hingga penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Salah satu sektor yang berpotensi dikembangkan ialah industri pengolahan. Berdasarkan data yang disampaikan dalam sambutan tersebut, sektor ini mencatat pertumbuhan sebesar 19,12 persen pada 2025.

Pemkab Kutim juga mendorong pengembangan hilirisasi, termasuk rencana gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kecamatan Bengalon. Upaya tersebut diharapkan meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus membuka peluang usaha baru.

Melalui diversifikasi ekonomi dan penguatan industri pengolahan, pemerintah daerah berharap manfaat kekayaan alam dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat. Langkah ini menjadi bagian penting dalam membangun perekonomian Kutim yang lebih tangguh dan berkelanjutan.(ADV)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

    LAINNYA