Gasifikasi Batu Bara Jadi Metanol di Bengalon Disorot sebagai Strategi Hilirisasi Kutim

waktu baca 2 menit
Selasa, 13 Okt 2026 10:30 0 3 Harian Republik

SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mendorong pengembangan industri hilirisasi melalui rencana gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kecamatan Bengalon. Langkah ini disoroti sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat perekonomian daerah.

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menyampaikan bahwa pengembangan industri pengolahan menjadi bagian penting dari transformasi ekonomi Kutim. Upaya tersebut diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru dan memperluas manfaat pengelolaan sumber daya alam bagi masyarakat.

Dalam sambutannya pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Kutai Timur, Senin (12/10/2026), Ardiansyah menekankan pentingnya mengolah potensi daerah agar tidak hanya bergantung pada penjualan komoditas mentah.

“Pengembangan industri pengolahan, termasuk rencana gasifikasi batu bara menjadi metanol di Bengalon, menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi daerah dan masyarakat,” ujar Ardiansyah.

Berdasarkan data yang disampaikan dalam sambutan tersebut, sektor pertambangan dan penggalian masih menyumbang sekitar 70,16 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kutim pada 2025. Sementara itu, sektor industri pengolahan mencatat pertumbuhan sebesar 19,12 persen pada periode yang sama.

Kondisi tersebut memperkuat pentingnya diversifikasi ekonomi melalui pengembangan industri pengolahan. Pemerintah daerah berharap hilirisasi dapat mendorong investasi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal, serta memperluas keterlibatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Namun, sambutan tersebut belum merinci nilai investasi, jadwal pelaksanaan, maupun target penyerapan tenaga kerja dari rencana gasifikasi batu bara di Bengalon.

Kejelasan mengenai aspek tersebut diperlukan untuk mengukur kesiapan proyek serta manfaat ekonominya bagi masyarakat. Dengan perencanaan dan pelaksanaan yang terukur, hilirisasi diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi Kutim yang lebih beragam dan berkelanjutan.(ADV)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

    LAINNYA