Lestarikan Budaya dan Bahasa Daerah Melalui Mulok

waktu baca 2 menit
Sabtu, 25 Nov 2023 16:23 0 33 AdminWeb

Samarinda – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) telah menetapkan rencana untuk menjadikan empat bahasa lokal sebagai program pelajaran Muatan Lokal (Mulok) yang diprioritaskan dalam sistem pendidikan.

Kepala Disdikbud Provinsi Kaltim, Muhammad Kurniawan menyebutkan bahwa pelestarian bahasa dan budaya daerah dapat diwujudkan melalui dunia pendidikan, terutama melalui pelajaran Mulok.

“Dalam menghadapi era modern, generasi muda perlu mempelajari Mulok di sekolah, terutama bahasa daerah,” ujar Kurniawan.

Ia juga menyebutkan bahwa empat bahasa yang akan dijadikan mata pelajaran adalah Bahasa Paser, Bahasa Berau, Bahasa Dayak, dan Bahasa Kutai, yang akan menjadi bagian dari pembelajaran di sekolah.

Selain bahasa, Mulok tersebut juga akan mencakup aspek lain seperti tarian daerah, budaya lokal, dan materi terkait pelestarian budaya di Kaltim. Materi ini akan diajarkan oleh tenaga pengajar di setiap satuan pendidikan di Kalimantan Timur.

“Lalu ada mulok Sumber Daya Alam (SDA), yaitu yang menjelaskan apa kekayaan flora dan fauna yang ada di Kaltim. Kemudian budaya itu banyak ke arah seni tari asli daerah,” jelasnya.

Pasalnya, Kurniawan menyampaikan bahwa saat ini belum terdapat guru yang memiliki sertifikasi atau kompetensi untuk mengajarkan Mulok tersebut.

Meskipun demikian, pihaknya akan mencari guru yang mampu berbahasa daerah untuk mengajarkan materi dasar dengan kurikulum dan bahan pembelajaran yang disiapkan.

“Jadi yang kami ambil itu seperti guru yang memang bisa berbahasa daerah itu. Nanti mereka mengajarkan secara dasarnya tapi tetap kami bangun kurikulumnya sama bahan pembelajarannya. Di mana itu akan dibuat gurunya masing-masing,” ungkapnya.

Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dan Disdikbud Kaltim untuk menjaga serta melestarikan bahasa dan budaya lokal, yang juga telah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas).

“Daerah-daerah bisa membuat mulok mereka sesuai dengan ciri khas daerahnya masing-masing,” pungkasnya. (Disdikbud/Adv)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA